Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Thursday, 15 November 2012
Pendidikan Yang Berbasis Kefitrahan.
Fenomena rasa rindu, sayang, merasa hangat,merasa tenang, merasa aman dan nyaman yang timbul di diri seorang anak kaitan dgn orang tuanya, ketika sedang jauh secara fisik dan ketika berada dekat dgnnya berasal dan sebagai efek dari keikhlasan/ketulusan sikap dan tindak orang tua pada anaknya.
Keikhlasan niat, sikap dan tindak orang tua pada anaknya tersebut, merupakan sikap fitrah/alami yang timbul dari qalbunya (satu2nya entitas sumber fitrah manusia) dengan tanpa sedikitpun terselip maksud2 yg transaksional (maksud pamrih) sebagai bentuk maksud artifisial yang menjadi ciri khas kerja akal sbg perangkat untuk mempertahankan hidup keduniawian materi yg fana belaka.
Kondisi perlakukan orang tua pada anaknya ini, adalah kondisi yang sering
Pendidikan Dalam Renunganku Seorang
Pendidikan sulit tuk dikatagorikan ilmu, ia adalah fenomena natural/ cultural. dipikiran teu dipikiran, diayakeun maupun ditiadakan, dikondisikeun teu dikondisikeun secara sadar, pendidikan akan tetap ada dan akan berjalan mengiringi pertumbuhan dan perkembangan manusia dalam ruang dan waktu (fitrah/kodrati).
Adapun pendidikan formal ngaborojol /lahir (dikondisikan dan dikendalikan oleh negara) karena dilatar belakangi oleh keperluan negara dalam mentransformasikan ideologi yang dianut pada warga negaranya, agar warga negara memiliki cara pandang yang sama sebagaimana diinginkan negaranya. Hal ini dipandang perlu agar pemerintah negara dimudahkan dalam mengatur kehidupan bernegara masyarakatnya dlm rangka menuju cita2 negaranya.
Setelah revolusi industri yg mendorong mewabahnya
Labels:
artifisial,
Formal,
jabatan,
pangkat,
pendidikan,
renungan
REKONSTRUKSI PENDIDIKAN
Apa iya anak usia balita harus dididik di lembaga formal...bukankah masa itu seorang balita milik lembaga in formal...?
Apakah harus seorang anak balita di didik oleh orang dewasa yang bukan kluarga dekatnya yg tidak memahami nilai2 yang dianut kluarganya hanya demi untuk mengembangkan kognitif atau intelektualnya....?
Apakah memang potensi intelektual/kognitif/rasional empiris lebih penting di banding potensi naqli...?
Apakah wajar bila usia balita sudah diperkenalkan pada dunia formal (Gemeinschaft) yang nyata2nya dibentuk untuk mengejar pamrih dunia...?
Ada baiknya orang Indonesia yang sudah merasa dewasa, atau walau masih dalam katagori dewasa umur belum masuk pada katagori dewasa secara mental iman pun, untuk memikirkan secara arif tentang bagaimana pendidikan yang baik dan benar menurut kebenaran wahyu untuk anak, khususnya balita. John Lock pernah mengutarakan proposisi analitik spekulatifnya (apriori), bahwa anak itu adalah tabularasa, bagaikan kertas putih.Bila ditulisi dgn tinta merah, tulisan merah lah jadinya.
Menurut hemat saya, analogi John Lock di atas tidak bisa dianggap tepat sepenuhnya, sebab apa yang dimaksud dgn putih, adalah fitrah yang tidak bisa direkayasa/manipulasi oleh manusia. Artinya dia akan tetap selamanya putih. Adapun yang dipengaruhi
Metafor Pendidikan dan Pengajaran
Metafor bila fungsi pendidikan dan pengajaran yg beradasarkan idiologi Pancasila berjalan dgn baik... Dgn pengajaran, kognisi dan psikomotor seseorg berfungsi optimal dan berdampak pd kemandirian secara ekonomi shg mampu menempatkan diri dia atas garis kemiskinan...
Labels:
idiologi,
kognisi,
metafor,
pendidikan,
pengajaran,
psikomotor
Subscribe to:
Posts (Atom)